KEKURANGAN ADALAH KESEMPURNAAN
Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan dan kekurangan, tetapi bila tiba waktu untuk menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari, melantun kebaikan diantara bunga, menebar keindahan pada dunia. Dan angin pun memeluknya, dalam sejuk dan wangi surga. Alangkah damai menjadi bebijian, bersembunyi dalam gulita kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri, bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi dan matahari pun mendekapnya, dalam hangat serta cahaya. Ungkapan tersebut sama persis menggambarkan kehidupan di Pondok Pesantren, kita bersembunyi dalam sebuah “kepompong” yang bernama pesantren, mengasingkan diri dari glamor kehidupan hura-hura anak-anak muda, setiap hari harus bertarung dengan waktu, dengan keterbatasan yang kita miliki. Setiap hari harus bergelut dengan kondisi, dengan kekurangan yang seolah menjadi sebuah keniscayaan yang tak akan mungkin dapat terelakkan. Namun pada akhirnya kita akan bersama keluar untuk menebar rahmat dan cahaya Iman ke tiap pelosok dunia. Walau kekurangan kita miliki namun lagi-lagi itulah kesempurnaan yang kita punya.
Kekurangan adalah sebuah kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, banyak orang yang memiliki kekurangan, namun justru mereka telah banyak menorehkan sejarah dengan tinta emasnya serta banyak mempengaruhi kehidupan manusia dengan kelebihan yang ada dibalik kelemahannya, karena tuhan (baca : Allah) tidak pernah mendzholimi makhluk ciptaanNya. Karena setiap yang diciptakan dimuka bumi ini berpasang-pasangan, maka jika memiliki kekurangan pasti memiliki kelebihan.
Teringat beberapa tahun silam, saat senyum Abah (Habib…. ) masih terlihat dalam tiap langkah keseharian para santri, beliau selalu mengajarkan kapada santri-santri, betapa hidup dan kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Namun disitulah rahasia diberikan bagi mereka yang mau dan mampu membuka mata hatinya untuk menjalani prosesi hidup dan kehidupan ini. Ada keindahan saat tangan kita ulurkan untuk mereka yang membutuhkan, karena keterbatasan dan kekurangan yang ada. Ada kebanggaan saat kita tidak berhenti dipersimpangan sebab karena kekurangan. Mereka yang menyerah pasti kalah, namun bagi mereka yang mau berteriak lantang “Saya bisa……. “ dengan disertai niat dan tekad perjuangan yang sungguh-sungguh pasti bisa. Abah hanya memberikan kepada para santrinya dua pilihan “Sukses dan Sukses ……” tidak ada pilihan ketiga, kecuali bagi santri yang menghendaki pilihan yang ketiga “Gagal dalam Hidup”.
“Bang, dipanggil Abah ……” masih jelas terdengar ditelinga. Saat bergegas menghampiri, Abah telah pergi. Yang ada hanya sebuah mobil bermerk Suzuki Xenia “Ustadz, diminta untuk mengantikan Abah memberikan Tausiyah ……” Tak beberapa lama kami siap berangkat, terkejut seketika saat pintu mobil terbuka “Ya Allah ……….” Terperanjat bukan kepalang, heran dan merasa malu kepada sang pencipta, bukan karena merk mobil atau fasilitas yang ada didalam nya, tapi …! Karena Pak Fikri, itu panggilan Akrab nya. Beliau lah yang ada dibalik kemudi mobil tersebut, sungguh luar biasa, bukan karena gaya mengemudinya seperti Michael Schumacher pembalap Formula 1 asal jerman yang memegang rekor tujuh kali juara dunia. Tapi karena Pak Fikri, beliau mengemudikan mobil tanpa menggunakan kaki. Kedua belah kakinya, harus diamputasi karena kecelakaan yang menimpanya. Diluar dugaan, ternyata kami menuju ke sebuah daerah di Cibinong-Bogor. KAPCI (Komite Advokasi Penyandang Cacat Indonesia) tak sanggup rasanya untuk berdiri, malu dengan semangat mereka dan jiwa besar mereka, ditempat tersebut mereka berkarya, berkreasi sama seperti kita semua. disanalah komunitas orang-orang cacat berkumpul, tapi mereka tidak cacat, pun mereka tidak mau dipanggil orang cacat, bangga hati ini saat mendengar sebutan untuk komunitas mereka “DIFABEL” (Diferent Ability), mereka punya kekurangan tapi justru kekurangan yang mereka miliki menjadi kesempurnaaan.
Alangkah indah hidup dalam “kekurangan”, karena akan tercipta cerita-cerita luar biasa, disaat kita telah dan sedang memeluk kesuksesan dan merengkuh keberhasilan. sungguh sirah yang mengagumkan, uswah perjalanan hidup seorang hamba Allah yang bergelar Habibullah (Kekasih Allah), yang tidak pernah terlihat belajar membaca dan menulis, namun menjadi kesempurnaan dalam setiap untaian kata yang terucap dari lisan mulianya. Sehingga orang-orang yang dekat dengan beliau, faham, mengerti dan tahu betul, bahwa kalimat-kalimat yang terucap bukanlah semata-mata perkataan manusia biasa. Tidak hanya kawan, bahkan lawan pun mengakuinya. Namun lagi-lagi kesombongan membutakan jalan hidup mereka. Lidah-lidah mereka terasa kelu untuk mengimani kebenaran akan ajaran-ajaran yang telah disampaikan. Tak mempunyai harta yang melimpah, hanya sebuah selimut using, yang saat musim panas beliau bentangkan dan saat musim dingin beliau lipat menjadi dua, separuh untuk alas beliau tidur dan separuh dijadikan selimut. Namun, bukan berarti beliau mendidik umatnya untuk hidup dalam dunia gelap kemiskinan. Semasa hidupnya beliau selalu mengajarkan.
“Tangan yang berada diatas lebih baik dari tangan yang berada dibawah …..”
“Terkadang kemiskinan dapat mendekatkan diri kepada kekufuran ………”
Tidak ada kesempurnaan dikehidupan ini, mencari kesempurnaan, sama artinya dengan mencari unta yang bisa masuk kedalam lubang jarum. justru dibalik kekurangan itulah terdapat kesempurnaan.
Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan dan kekurangan, tetapi bila tiba waktu untuk menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari, melantun kebaikan diantara bunga, menebar keindahan pada dunia. Dan angin pun memeluknya, dalam sejuk dan wangi surga. Alangkah damai menjadi bebijian, bersembunyi dalam gulita kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri, bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi dan matahari pun mendekapnya, dalam hangat serta cahaya. Ungkapan tersebut sama persis menggambarkan kehidupan di Pondok Pesantren, kita bersembunyi dalam sebuah “kepompong” yang bernama pesantren, mengasingkan diri dari glamor kehidupan hura-hura anak-anak muda, setiap hari harus bertarung dengan waktu, dengan keterbatasan yang kita miliki. Setiap hari harus bergelut dengan kondisi, dengan kekurangan yang seolah menjadi sebuah keniscayaan yang tak akan mungkin dapat terelakkan. Namun pada akhirnya kita akan bersama keluar untuk menebar rahmat dan cahaya Iman ke tiap pelosok dunia. Walau kekurangan kita miliki namun lagi-lagi itulah kesempurnaan yang kita punya.
Kekurangan adalah sebuah kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, banyak orang yang memiliki kekurangan, namun justru mereka telah banyak menorehkan sejarah dengan tinta emasnya serta banyak mempengaruhi kehidupan manusia dengan kelebihan yang ada dibalik kelemahannya, karena tuhan (baca : Allah) tidak pernah mendzholimi makhluk ciptaanNya. Karena setiap yang diciptakan dimuka bumi ini berpasang-pasangan, maka jika memiliki kekurangan pasti memiliki kelebihan.
Teringat beberapa tahun silam, saat senyum Abah (Habib…. ) masih terlihat dalam tiap langkah keseharian para santri, beliau selalu mengajarkan kapada santri-santri, betapa hidup dan kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Namun disitulah rahasia diberikan bagi mereka yang mau dan mampu membuka mata hatinya untuk menjalani prosesi hidup dan kehidupan ini. Ada keindahan saat tangan kita ulurkan untuk mereka yang membutuhkan, karena keterbatasan dan kekurangan yang ada. Ada kebanggaan saat kita tidak berhenti dipersimpangan sebab karena kekurangan. Mereka yang menyerah pasti kalah, namun bagi mereka yang mau berteriak lantang “Saya bisa……. “ dengan disertai niat dan tekad perjuangan yang sungguh-sungguh pasti bisa. Abah hanya memberikan kepada para santrinya dua pilihan “Sukses dan Sukses ……” tidak ada pilihan ketiga, kecuali bagi santri yang menghendaki pilihan yang ketiga “Gagal dalam Hidup”.
“Bang, dipanggil Abah ……” masih jelas terdengar ditelinga. Saat bergegas menghampiri, Abah telah pergi. Yang ada hanya sebuah mobil bermerk Suzuki Xenia “Ustadz, diminta untuk mengantikan Abah memberikan Tausiyah ……” Tak beberapa lama kami siap berangkat, terkejut seketika saat pintu mobil terbuka “Ya Allah ……….” Terperanjat bukan kepalang, heran dan merasa malu kepada sang pencipta, bukan karena merk mobil atau fasilitas yang ada didalam nya, tapi …! Karena Pak Fikri, itu panggilan Akrab nya. Beliau lah yang ada dibalik kemudi mobil tersebut, sungguh luar biasa, bukan karena gaya mengemudinya seperti Michael Schumacher pembalap Formula 1 asal jerman yang memegang rekor tujuh kali juara dunia. Tapi karena Pak Fikri, beliau mengemudikan mobil tanpa menggunakan kaki. Kedua belah kakinya, harus diamputasi karena kecelakaan yang menimpanya. Diluar dugaan, ternyata kami menuju ke sebuah daerah di Cibinong-Bogor. KAPCI (Komite Advokasi Penyandang Cacat Indonesia) tak sanggup rasanya untuk berdiri, malu dengan semangat mereka dan jiwa besar mereka, ditempat tersebut mereka berkarya, berkreasi sama seperti kita semua. disanalah komunitas orang-orang cacat berkumpul, tapi mereka tidak cacat, pun mereka tidak mau dipanggil orang cacat, bangga hati ini saat mendengar sebutan untuk komunitas mereka “DIFABEL” (Diferent Ability), mereka punya kekurangan tapi justru kekurangan yang mereka miliki menjadi kesempurnaaan.
Alangkah indah hidup dalam “kekurangan”, karena akan tercipta cerita-cerita luar biasa, disaat kita telah dan sedang memeluk kesuksesan dan merengkuh keberhasilan. sungguh sirah yang mengagumkan, uswah perjalanan hidup seorang hamba Allah yang bergelar Habibullah (Kekasih Allah), yang tidak pernah terlihat belajar membaca dan menulis, namun menjadi kesempurnaan dalam setiap untaian kata yang terucap dari lisan mulianya. Sehingga orang-orang yang dekat dengan beliau, faham, mengerti dan tahu betul, bahwa kalimat-kalimat yang terucap bukanlah semata-mata perkataan manusia biasa. Tidak hanya kawan, bahkan lawan pun mengakuinya. Namun lagi-lagi kesombongan membutakan jalan hidup mereka. Lidah-lidah mereka terasa kelu untuk mengimani kebenaran akan ajaran-ajaran yang telah disampaikan. Tak mempunyai harta yang melimpah, hanya sebuah selimut using, yang saat musim panas beliau bentangkan dan saat musim dingin beliau lipat menjadi dua, separuh untuk alas beliau tidur dan separuh dijadikan selimut. Namun, bukan berarti beliau mendidik umatnya untuk hidup dalam dunia gelap kemiskinan. Semasa hidupnya beliau selalu mengajarkan.
“Tangan yang berada diatas lebih baik dari tangan yang berada dibawah …..”
“Terkadang kemiskinan dapat mendekatkan diri kepada kekufuran ………”
Tidak ada kesempurnaan dikehidupan ini, mencari kesempurnaan, sama artinya dengan mencari unta yang bisa masuk kedalam lubang jarum. justru dibalik kekurangan itulah terdapat kesempurnaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar