Selamat Datang Di FARUCH NET, Pustaka Referensi Dan Sastra. Semua Yang Anda Butuhkan Ada Di Sini

Sabtu, 11 Februari 2012

MIMPI SI TUKANG BAJAY

Jakarta pada tengah hari dimusim kemarau bagai neraka. Panas terik. Tubuhku serasa dibakar walau dalam naungan terpal atap bajay. Dan seketika keringat mengucur deras, menganak sungai. Ingar-bingar! Ditambah lagi rasa lelah  karena sudah setangah hari beraktivitas menjalankan tugasku sebagai supir Bajay.
Tapi, kemarau masih untung. Sebab, jika musim hujan datang keadaanku –dan para supir bajay lainnya –makin parah. Daerah Jakarta yang rawan banjir membuatku kesusahan mencari uang. Sebab, selain jumlah penumpang yang makin merosot,  jalanan di ibu kotapun terendam air, sehingga malah menimbulkan banyak masalah. Akibatnya, aku dan rekan kerjaku kewalhan mencari uang.
Memang, menjadi supir bajay adalah pilihan terakhir bagi seseoarang dalam mencari mata pencahariannya. Tak bedanya dengan kuli bangunan. Pekerjaan kelas rendahan. Disamping pekerjaan berat, pun penghasilannya sedikit. Berangkat kerja pagi, dan pulang kadang sampai larut malam. Jika untung, bisa sampai dua ratus ribu ku dapatkan dalam sehari. Dan jika sedang sepi, untuk uang setoranpun tak ada. Bahkan, terkadang kena tilang polisi dan tabrakan.
“Nak, jika besar nanti, jangan sekali-kali menjadi tukang bajay! Lebih baik dagang, buka usaha kecil-kecilan.” Kataku pada Rudi, anak lelakiku.
    “Memangnya kenapa?” Tanyanya sambil mengernyitkan keningnya.
    Mendengar pertanyaannya itu aku sedikit kesal. Malas untuk menjawabnya. Namun, dari sorot matanya, ia sangat menuntut jawaban dariku. Akhirnya ku katakan saja:
    “Kau lihat saja sendiri nasib ayahmu!”
###

Semenjak tahun ‘80-an aku sebagai supir bajay. Hingga kini. Aku bekerja pada pak Hasan, bos bajay “ERLANGGA”. Selama 20 tahun itulah sama sekali keluarga belum bisa dikatakan mapan. Masih saja tinggal di rumah kontrakan. Rasanya, keinginan untuk membangun rumah adalah khayalan belaka mengingat penghasilku yang pas-pasan. Bahkan terkadang masih kurang dari jumlah anggaran rumah tangga dalam sehari. Namun, aku bersyukur. Kami –aku dan keluargaku –masih bisa hidup hingga detik ini walau berbagai rintangan terus kami hadapi. Dan si Rudi, anak bungsuku itu masih bisa sekolah  hingga kini. Dibangku kelas tiga SMP. Aku punya mimpi, semoga saja si Rudi bisa sekolah setinggi-tingginya. Bila perlu sampai bergelar Doktor, yang kata si Arman, tetanggaku yang sarjana, harus lulus S3. Agar si Rudi tak hidup susah sepertiku, menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan keluarganya.
    “Nak, kau tahukan, bagaimana susahnya menjadi orang bodoh?! Bagaimana sengsaranya menjadi orang miskin?!”
    Rudi manggut-manggut seperti burung pelatuk mencari serangga. Menginjak usia lima belas tahun tampaknya ia sudah faham tentang kehidupan. Dan sudah banyak merasakan pahit-asamnya kehidupan. Sadar akan sebab-akibat yang dilakukan.
    “Itulah sebabnya kau harus rajin-rajin belajar! Kau harus terus sekolah! Kuasai ilmu apapun! Sebanyak-banyaknya. Karena menjadi orang pintar... dihormati, disegani dan selamat sekalipun berbuat salah...”
    Ia manggut-manggut lagi. Mengiyakan. Setuju dengan  kata-kataku. Dan aku bahagia bahwa anakkku menurut dan sudah mulai memikirkan masa depan.
    “  Do’akan bapak, nak! Agar di murahkan rizkinya, supaya bisa terus menyekolahkanmu hingga sarjana...” Tambahku.
###
Kini aku harus bekerja lebih ekstra dari biasanya. Istrikupun yang sebagai pengelola ekonomi keluarga ku pinta untuk pandai-pandai menghemat uang. Jika perlu, harus pandai menabung. Karena, si  Rudi minggu lalu dinyatakan tamat dan lulus SMP. Itu artinya, sesuai impianku, ia harus terus melanjutkan sekolah. Dan sekarang ia lagi butuh uang banyak untuk biaya masuk SMA.
    Kemarin malam aku bicara empat mata dengannya.
    “Bapak, kira-kira aku bisa melanjutkan sekolah?” Tanyanya padaku.
    Ku telan ludah. Dan berusaha untuk tersenyum dihadapannya.
    “Tentu.”
    Aku cemas. Cemas pada sesuatu hal lain. Sesuatu yang berbeda dari yang aku harapkan. Dan aku tak mau mengecewakannya. 
    “Kira-kira, berapa uang masuk SMA...?” Terasa berat ku ucapkan kalimat itu.
    “Yah, kalau disini, di Jakarta, semurah-murahnya harus punya uang satu juta...”
    Susah payah ku telan ludah. Seolah kelenjar ludah berhenti bekerja. Mendengan kata “Juta” seakan ada beban menambah di pundakku. Sangat membebaniku. Bahkan, bulu kudukku sampai merinding.
    Si Rudi makin tajam memandangku. Sepertinya rasa kekhawatiranku makin tergambar jelas diwajahku. Dan ia dapat membacanya.
    “Insya Allah bapak usahakan...”
    Hanya itu yang dapat ku katakan padanya, demi meyakinkannya.
    Obrolan kemarin itu terus terngiang di telingaku saban hari. Membuatku enggan beristirahat bekerja.  Walaupun sekujur badanku terasa babak belur. Seakan ada yang menuntutku untuk tak berhenti  bekerja. Sehingga, panasnya mentari disiang hari, kondisi tubuh yang lelah serta berbegai kendala lainnya tak mampu mematahkan semangatku demi menunaikan tugas suciku sebagai seorang bapak yang harus memenuhi semua kebutuhan keluarga. Disamping itupun, tak henti aku berdo’a, semoga Tuhan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kami serta mengabulkan semua yang dicita-citakan kami.
###
Seiring langkah waktu yang pasti, akhirnya aku merasa lega ketika aku berhasil memasukkan si Rudi ke SMA. Serta masih bisa menyekolahkan kedua adiknya di Sekolah Dasar.
    “Nak, jika kamu sudah hidup enak, sudah berkeluarga, jangan lupa pada adik-adikmu. Mungkin bapak tidak bisa membiayai mereka. Sehingga, kamu anak tertua yang harus bisa menggantikan  posisi bapakmu ini! Biayai terus sekolah mereka! Sebab, seperti kau tahu, bahwa sekolah itu penting...”
    Seperti biasa, si Rudi hanya manggut-manggut kepala. Tanpa bicara. Tapi, kemudian ia bubuhkan satu kata:
    “Insya Allah...”
###
Semua kenangan masa lalu tampak jelas dalam ingatanku. Semua kisah perjalanan masa mudaku masih kental menempel dalam memori otakku. Seperti kilasan-kilasan cerita dalam film. Kini, aku adalah seorang lelaki tua yang sudah dua tahun ditinggal pergi istri tercinta untuk selamanya. Tentu, akupun tak lagi perkasa seperti dulu. Bahkan, seperti sebatang pohon ditanah tandus. Kurus kering dan rapuh. Kehidupanku yang serba susah semasa muda, ternyata berlanjut hingga kini. Bahkan lebih parah.
    Si Rudi, anak bungsuku, harpan terbesarku, nyatanya gagal meraih mewujudkan impianku. Ia putus sekolah ketika kelas 2 SMA karena aku tidak bisa terus membiayai sekolahnya. Mengingat usia ku yang semakin menua dan saingan kerjaku sebagai tukang bajay yang semakin bertambah banyak sedangkan biaya sekolahnya semakin tinggi dan beragam. Tentu aku tak sanggup. Sejak itu ia bingung harus kemana dan bagaimana. Melamar kerja kesana-kemari dengan selembar ijazah SMP tak pernah menuai harapan. Sebab yang selalu ia terima adalah penolakan. Malang! Yah, aku maklumi dizaman sekarang ini. Sarjana saja banyak yang menganggur. Apalagi yang hanya lulusan SMP. Ingin buka usaha, tak punya modal. Menjadi kuli, aku tak sampai hati walau hanya untuk membayangkannya. Sebab, fisiknya yang semenjak kecil kurus dan sering sakit-sakitan.
    Karena ia terus menganggur, ia minta padaku untuk mengajarinya mengemudi bajay. Awalnya aku enggan. Tak rela. Tapi, kemudian aku sanggupi karena tidak ada pilihan lain, sebab aku semakin tak sampai hati melihatnya terus menganggur . dan aku tahu, iapun menderita batin karena menjadi anak yang tidak bisa diandalkan, apalagi di banggakan. Kini, aku semakin kecewa dan merana. Sesuatu yang sangat tak ku inginkan terjadi. Anak bungsuku menjadi tukang bajay, meneruskan profesiku.
    Aku masih termenung sendiri dalam rumah kontrakanku yang ku huni sejak puluhan tahun silam bersama keluargaku. Tak ada yang berubah disini, kecuali jumlah anggota keluarga yang semakin bertambah. Karena si Rudi telah berkeluarga dan memiliki anak dua. Aku terus meratap akan hidupku yang malang sambil ku pandangi si Rudi yang tengah menasehati anak bungsu laki-lakinya. Barangkali, apa yang diucapkannya sama seperti kata-kataku saat menasehatinya puluhan tahun silam: agar jangan sekali-kali menjadi tukang bajay. Pun di kursi dan ruang yang sama.
    Malam ini terasa panjang. Dan aku terus termenung dan berandai-andai. Andai waktu terulang kembali. Andai hidup menjadi orang kaya dan berharta. Andai si Rudi bisa terus sekolah hingga bergelar sarjana. Andai.... Andai....
    Malam terasa semakin larut. Akupun semakin lelah termenung dan berandai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar