Selamat Datang Di FARUCH NET, Pustaka Referensi Dan Sastra. Semua Yang Anda Butuhkan Ada Di Sini

Rabu, 15 Februari 2012

DUA BERITA DI KOTA
 
Pagi ini aku mesti cepat-cepat dating kealun-alun kota. Kabarnya,disana Bupati akan hadir menyambut kesebelasan sepakbola remaja kota yang katanya menjuarai peringkat 1 pada olimpiade sepakbola se- Jawa Barat yang diadakan di kota Bandung.karena profesiku sebagai wartawan tentu takboleh ketingglan,apalagi sampai menyia-nyiakan berita bagusini. Sebab, dengantulisanku ini aku bisa dapatkan uang.
    Sekitar pukul Sembilan pagi aku telah tiba disana. Rupanya belumterlambat walau alun-alun kota telah ramai, sebab “sang jagoan” belum datang. Mereka yang hadir hamper meliputi semua elemen masyarakat. Mulai dari rakyat biasa, RT, RW, perangkat desa, camat beserta anggotanya, Bupati dan para kaki tangannya, guru-guru dari berbagai sekolah Kota hingga bapak Gubernurpun ada. Semua berdiri berjejer disisi kanan-kiri jalan, berjubel, seperti  rakyat hendakmenyambut kedatangan sang raja dari Istana. Suara riuh membahana, membumbung angkasa. Mereka kebanyakan berkomentgar ini-itu,membanggakan jagoan timsepak bolanya yang meraihjuara.

    “Hebat ya,kesebelasan sepak bola Remaja Kota.apalagi Heri, si Penyerang yang di sebut Dewa Lapangan, sampai paling banyak mencetak gol. Musuh selalu tak berkutikdengan serangannya. Diaitu tinggal dikelurahanku.”PakSimin, lurah Kota berkomentar dihadapan sahabat-sahabatnya yang juga seprofesi  dan memiliki jabatan sama. Sementara lurahlainnya mengangguk-anggukkan kepala, menaruh kagum pada Simin, sahabatnya yang sukses  menelurkan bibit unggul dan berprestasidi kelurahannya.
    Tak berapa lama arak-arakan dating,mengiring bis biru yang didalamnya remaja-remaja kesebelasan sepak bola Remaja Kota. Sirine dari motor dan mobil polisi menderu-deru dibagian depan arak-arakan, mampu mencuri perhatian semua yang hadir. Polantas dan Satpol PP beryteriak-teriak menertibkan mereka yang terus mendesakmaju ingin meliahat sedekat-dekatnya. Kemudian,usai memasuki alun-alun bis biru itu berhenti diantara deretan mobil. Suasana  makin riuh.orang-orang berebut inginmengerumuni bis biru yang dengan selamat dikawal polisi. Taklamapintu bis terbuka. Semuamata tertuju padanya. Apalagi reporter dan para wartawan –termasuk aku –berdesak-desakan ingin maju ke depan. Bagaimanapuncaranya. Lalu, satu-satu kesebelasansepakbolaRemajaKota keluar. Kami, para reporter dan wartawan semakin memaksa maju, menantang satuan keamanan, demi mewawancarai danmengambil gambar.    Dikejauhan, depan  pengeras  suara terdengar nyaring:
    “Selamat dating kesebelasan sepak bola Remaja Kota…”
    Disampingku seorang bapak-bapak berkata setengah teriak sambil menunjuk:
    “Mereka itu kebanyakan dari SMA 99 Kota, murid saya…”
    Adalagi terdengar suara:
    “Tuh, si Arman dan Yasin. Masih saudara denganku…”
    “…Aku ini ketua RT dikampungnya . makanya aku memaksanak datang kesini, ikut menyambut…” Kata lainnya.
    Mereka terperangah. Terkagum-kagum. Saling berbangga diri.
    Kesebelasan itu berjalan, dan langsung dipapah para pembesar-pembesar serta orang-orang penting daerah. Karangan bungapun satu-satu mendapatkannya, dikalungkan dileher-leher mereka. Pemerintah bagian olahraga dalampidatonya menyatakan:
    “Selamat dan sukses serta kami  mengucapkan terimakasih banyak atas prestasi gemilang kalian sehingga Kota makin terpandang…”
    Lain lagi sambutan bagian pendidikan.
    “…Kesebelasan sepak bola Remaja Kota  yang meraih juara 1 pada olimpiade kali ini adalah contoh untuk kesebelasan lainnya,agar bisa meningkatkan lagi dalam latihannya. Itu berarti kurikulum yang diterapkan, khususnya pengajaran materi tentang olahraga sepak bola sukses…”
    Bapak Bupati Kota begini sambutannya:
    “Kami merasa bangga bahwa salah satu kesebelasan sepakbola kita mampu meraih prestasi, dantentunya bisamengangkat namabaik Kota…”
    Terakhir kalibapak Gubernur ikut angkat bicara:
    “Selamat dan sukses atas prestasi yang diperoleh kesebelasan sepak bola Remaja Kota, semoga ditahun depan bisa mempertahankan juara satu ini dan daerah Kota bisa lebih berprestasi lagi…”
    Betapa berbunga-bunga kesebelasan sepak bola Remaja Kota yang mendapat banyak sanjungan dari tokoh-tokoh penting pemerintahan daerah maupun lainnya dari berbagai kalangan. Ia sangat diistimewakan, seperti sekelompok pasukan yang telah memenangkan peperangan, membawa nama baik kerajaan. Sampai-sampai semua orang berebutan ingin menyambut kedatangannya mereka. Jelas-jelas mereka berada diatas angin.
    Jam dua siang acara usai. Mereka masih dibuai serta dimanjakan oleh banyak orang. Masih dengan bis biru, bis pariwisata AC  mereka diarak pulang,sambil lebih dulu keliling Kota. Akupun pulang dengan berkendara sepeda motorku karena alun-alun Kota berangsur-angsur sepi. Ditengah jalan aku menyaksikan bis biru berikut yang mengiringnya berhenti. Ada apa kiranya? Apa banyak fans-nya yang menghadangf jalan? Tanpa piker panjang, aku dekati saja. Siapa tahu ada berita baru yang menarik untuk ku liput.
    Tiba disana aku terkejut. Rupanya, yang sampai membuat macet jalan sehingga mereka tak bisa lewat adalah aksi tawuran antar remaja SMA Kota. Itulah yang menghambat jalan bis biru dan yang mengiringinya.
    Ini berita bagus! Aku membatin.
     Tanpa ba-bi-bu, segeraku taruh sepeda motorku, kutitipkan pada salah seorang kakek-kakek yang berdiri didepan sekolah SD.lekas aku berlari ke tempat kejadianperkara.
Sampai disana tawuran antar remaja SMA masih berlangsung sengit. Batu beterbangan kemana-mana. Beberapa diantara pelajar sampai berdarah kena lemparan batu dan pukulan. Rusuh. Namun, anehnya, belum juga ada yang melerai mereka hingga aksi rusuh ini semakin parah, memperburuk keadaan, sampai menimbulkan benyak kerugian baik fisik maupun materi. Padahal banyak aparat pemerintahan yang menyaksikan dengan mata mereka sendiri. Mereka malah diam dan sebagian saling menyuruh dan mengalihkan tugas. Remaja yang tawuran dan kesebelasan sepak bola Remaja Kota bukankah sama-sama anak SMA, tinggal di salah satu kelurahan di Kota? Jika barusan aparat pemerintahan berebutan dan merasa perlu menyambut “sang jagoan” yang berprestasi, lalu siapakah yang pantas menyambut dan melerai mereka yang tengah bertarung antar SMA?
Hari ini aku mendapat dua berita di Kota. Berita yang sama latar belakangnya namun berbeda keadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar