Selamat Datang Di FARUCH NET, Pustaka Referensi Dan Sastra. Semua Yang Anda Butuhkan Ada Di Sini

Selasa, 27 Maret 2012


AHSAN
Oleh : Reang
Di bawah siraman terik mentari aku lari pontang-panting mencari perlindungan, masuk ke gang-gang, menelusup ke deretan rumah-rumah bahkan memasuki rimbunan kebun bambu dikampungku yang dikenal orang angker. Aku tak takut lagi pada bangsa lelembut yang katanya menyeramkan dan bisa mencelakakan. Pikiranku kalut serta hatiku resah karena ayah marah besar padaku sekarang dan tengah mengejarku dibelakang. Memang, ini semua salahku. Sudah beberapa kali ayah memperingatkanku agar tidak lagi melanggar peraturan sekolah. Namun beruntungnya ayah, ia yang mengendarai sepeda sepulang dari pasar mendapatiku dengan tak sengaja duduk-duduk sambil merokok di gardu dekat jalan raya bersama teman-teman satu sekolah SMP ku sekitar pukul sepuluh pagi tadi. Itu artinya ayah menemukan dua barang bukti kalau aku lagi-lagi tidak mengindahkan peringatannya, yakni merokok dan bolos sekolah. Tentu ia berang bukan buatan dan ingin menumpahkan kekesalannya yang menggunung setelah ditahan-tahannya saat menasihati anaknya yang tak tahu diri berulang-ulang. Sehingga buru-buru menghampiriku. Tak ada istilah malu bagi ayah dalam menegakkan kebenaran, meskipun akan mempertaruhkan reputasinya dan anaknya dihadapan umum. Untungnya aku lebih dulu tahu keberadaannya sebelum ia benar-benar menangkap anak badungnya ini. Maka, tak pelak lagi, langsung ku gunakan jurus langkah seribu. Bahkan, mungkin karena rasa takutku yang berlebihan, entah kenapa langkah kakiku terasa ringan dan panjang-panjang. Ku rasakan dua kali lebih cepat speed lariku dari biasanya. Tak ku hiraukan tasku yang tertinggal disana. Aku hanya ingin selamat. Selamat dari cakar mautnya yang mengerikan. Sebab aku kenal betul bahwa ayah termasuk orang yang pandai dalam menghukum seseorang. Jika kini pelanggaranku bisa dinilai besar, berarti hukumanku pun kelas tinggi yang sangat menakutkan dan menyakitkan. Aku tak mau itu terjadi.

Bagai harimau hendak menangkap kijang, ayah amat bersemangat mengejarku. Dan sebagaimana kijang yang ingin hidup, Akupun berusaha keras menyelamatkan diri. Meski aksi kejar-kejaran ini tak seimbang –ayah dengan sepeda ontelnya sedang aku hanya berlari –namun aku bisa lolos dari terkaman mautnya karena beliau kesusahan ketika mengendarai sepedanya memasuki gang-gang sempit dan jalan berkelok-kelok dan berbatu. Walaupun begitu ia tidak seperti harimau afrika yang mudah menyerah ketika mangsa semakin jauh. Aku yang kini ngos-ngosan dan kepayahan di tengah teduh dan gelapnya rimbunan bambu, ia masih mengejar di belakang. Aku bisa mengetahuinya karena bunyi kasak-kusuk sepedanya itu yang masih terdengar.
“Malang benar hari ini.” Gumamku sambil sebentar berhenti dengan nafas memburu.
Aku tak mampu lagi berlari! Aku bukan pelari. Akupun sama sekali tak mengharap ayah bisa membekukku disini. Sebab pasti aku babak belur dihajarnya. Maka, satu-satunya jalan adalah sembunyi, sebelum ia sampai melihatku.
Krakk! Grasak! Terdengar kayu patah.
Aku yang belum sempat sembunyi terkejut dan seketika menoleh ke belakang. Tampak wajah ayah bak panglima perang tengah menunggang kudanya dengan garang dan gagah berani. Air mukanya geram melihatku. Seperti ingin menghabisiku.
“Mau lari kemana lari, kamu?!” Ia menudingku dari kejauhan, bak sang pejuang mengangkat pedang dihadapan lawan.
Maka, walaupun kakiku pegal-pegal dan seperti berdarah-darah, ku paksakan untuk kembali berlari. Sementara ayah yang mengetahui buruannya mulai lemah semakin bersemangat mengejarku. Namun, sepertinya takdir tidak memihakku. Aku semakin kepayahan. Dan saking payahnya setelah berlari kencang puluhan kilo meter dengan sendirinya aku terjatuh. Ayah tampak gembira dan menyeringai. Disinilah akhirnya ayah membekukku dan kemudian menggelandangiku sampai rumah. Dan aku terus membayang-bayangkan hukuman dahsyat yang pasti menimpaku.
***
Aku dilahirkan dari keluarga ekonomi kelas menengah. Ayahku seorang ustadz kampung sekaligus petani biasa. Selain memiliki lahan sawah, iapun membuka kedai kecil untuk usaha sampingan di depan rumahnya. Sedang ibuku seorang  ibu rumah tangga yang baik yang selalu siap sedia membantu pekerjaan suaminya selagi ia bisa. Dari mereka berdua itulah aku dianugerahi nama Ahsan.
Semenjak kecil sifat nakalku tak tanggung-tanggung. Nyaris selalu saja ada bahan untuk aku melakukan aksi bejatku.  Kecuali ayah dan ibu, banyak yang sampai mengeluhkan kenakalanku.
“Apa mungkin dulu, sikapmu seperti itu, Man?” Tanya pak Nasir tetangga sebelah rumahku.
“Saat hamil dia, pasti kamu makan yang aneh-aneh, Nah...” Tebak bu Yati tentang ibu, guru yang menjadi wali kelasku dulu di kelas satu.
Mendengar perkataan-perkataan seperti itu ayah dan ibu diam saja. Kadang jawab seadanya. Walau pernyataan-pernyataan itu mungkin sedikit membuatnya kesal. Hanya saja tak pernah menampakkan kekesalannya itu pada mereka. Samapai pada suatu hari, akupun ikut menanyakan tentang diriku, karena sesekali mendengar dari orang lain tentang keganjalan diriku.
“Yah, kenapa ayah menamaiku Ahsan?  Mungkin ada yang salah dengan nama itu?!”
Aku bertanya demikian karena pak Yasin, guru agama di sekolahku mengatakan bahwa keganjilan seorang anak biasanya dari sebuah nama yang dianugerahkannya terlalu berat. Walaupun mitos, diam-diam aku memercayainya.
Saat itu ayah tengah duduk istirahat bersama ibu di ruang tengah. Air mukanya tampak sedikit berubah mendengar itu. Keningnya mengernyit. Entah galau atau marah padaku.
“San, kamu tahu apa makna dari namamu itu?”
Spontan aku menggeleng. Karena selama ini aku benar-benar tak mengetahui makna namaku dari sesiapapun dan baru kali ini aku ingin mengetahuinya. Barangkali ada benarnya yang dijelaskan pak Yasin. Sementara ibu hanya diam sambil terpaku memandang anak lelakinya yang sudah beranjak remaja. Tanpa ingin bicara walau sepatah kata, atau karena tak ingin menyerobot suaminya dalam menjelaskan perkaraku. 
“Ahsan adalah...” Mengambil nafas sesaat. “Yang terbaik. Itu berarti ayah dan ibu sangat mengharap kamu menjadi anak yang terbaik, terbaik dalam segala hal.” Jawabnya mantap.
“Kenapa kamu bertanya itu?” Ibu menyela.
Aku jawab, kalau aku hanya sekedar ingin tahu saja.
Kenapa amat bertolak belakang sekali dengan kepribadianku? Tanyaku entah pada siapa. Sebenarnya, terkadang aku menyadari ketololan sifatku yang tak mau berubah. Bahkan, kejadian buruk kemarin, sampai ayah mengejar-ngejarku sampai dapat dan lalu menghukumiku dengan amat berat menurut yang kualami –tidak diberi jajan dan menyapu halaman rumah selama seminggu ditambah pukulan dan ceramah serta nasehat panjang dan membosankan –tetap tak membuatku jera. Karena, dibulan berikutnya dua kali ayah kembali menangkap basah perbuatan burukku yang mengulangi kesalahanku waktu itu. Entah apa yang salah pada diri ayah dan ibu sampai-sampai memiliki anak yang tak mempan walau diberi berbagai hukuman dan nasehat oleh mereka, guru dan beberapa tetanggaku. Sampai pada minggu lalu, aku yang  kedapatan berkelahi dan ikut terlibat dalam tawuran, ayah tidak lagi menghukumku dan menasehatiku, entah atas dasar apa. Mereka, ayah dan ibuku hanya diam ketika aku baru saja pulang setelah tawuran. Entah marah atau kebahisan cara alias putus asa menyikapi kenakalan anaknya yang tak bisa di atasi. Dan usai makan malam aku dipinta menghadap ayah di ruang tengah. Sementara ibu sibuk melayani pembeli di kedai depan sana.
“Apa yang kamu lakukan lagi hari ini?” Raut mukanya tampak murung seperti kehidupan seseorang yang dililit banyak utang.
Sebenarnya ia tahu, tanpa perlu menanyaiku. Jadi, aku perlu menjawabnya.
“Ayah ingin menghukumku?” Aku balik bertanya.
Ia menghela nafas panjang, seperti membuang banyak beban didalam dadanya.
“Tidak. Ayah hanya ingin bertanya saja.”
“Tawuran.” Aku menundukkan kepala semenjak tadi. Karena aku merasa malu dengan diriku yang bertabiat buruk, padahal ayahku seorang ustadz. Dan tentu ayah sangat malu pada orang-orang akan kenalkalanku itu.
“Berkelahi?”
“Ya.”
“Kenapa tidak pernah berubah sifatmu dari dulu. Sekeras itukah hatimu?”
Lebih baik aku diam saja. Sebab, aku memang ada di pihak yang salah.
“Lusa nanti, kamu pindah sekolah.”
Mendengar itu aku biasa-biasa saja. Tak apalah pindah sekolah, toh aku masih bisa ketemu dengan kawan-kawanku.
“Di Magelang.”
Kali ini aku dibuatnya tergagap. Kepalaku mendongak dan membalas tatapannya dengan agak gentar.
“Kau keberatan?”
Aku diam lagi, sebab melawan juga tak mungkin. Ayah adalah tipe orang keras kepala. Sekali demikian, harus demikian. Tak bisa di ganggu gugat.
“Selain sekolahpun, ayah akan mendaftarkanmu ke pesantren.”
***
Senja di Magelang tampak indah sekali. Siluet Borobudur yang megah seperti tumpukan batu-batu cadas di puncak bukit. Entah kenapa, selama aku hidup di kota rantau, disini, aku menyukai pemandangan Borobudur, mahakarya seniman kelas tinggi yang mengukir batu dengan begitu artistik dan menarik, dengan latar belakang senja yang tampak jingga dari lokasi pesantrenku. Tak tahu kenapa hatiku tiba-tiba lapang dan bahagia setelah menikmati moment ini. Pemandangan yang sangat menakjubkan itu seolah sangat mempengaruhi batinku. Seperti yang juga ku lakukan saat ini. Dari masjid di pesantrenku, aku bersama teman-teman memandang panorama alam yang memukau itu. Teman-teman yang berada di sisi kanan-kiriku, tentunya berbeda dengan teman-temanku dulu. Bahkan bertolak belakang hampir 180 derajat. Dan tidak hanya menikmati senja yang elok tak terperikan, angankupun melayang-layang. Jauh, melintasi batas waktu. Beberapa kali aku terkenang kehidupan masa kecilku. Dan akupun akan teringat selalu keputusan ayah yang terakhir itu yang bahwa sebenarnya adalah hukuman terberat yang harus ku jalani: aku harus di pesantrenkan.
                Kehidupan yang ku jalani disini jauh belih berat dari yang ku kira. Aku sangat merasakan kehidupan orang-orang susah yang selalu dengan kekurangan dan kesusahan. Tidak sampai disitu. Bahkan yang ku rasakan, pendidikan disini adalah pendidikan terkeras dari seorang guru terhadap murid sepertiku. Dan aku tak mau menyerah, pulang ke rumah. Karena sudah terlalu banyak aku mengecewakan ayah. Akhirnya, disini, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti bahwa hidup haruslah ada aturan. Dan aturan yang mengekang ego dan kebebasanku semata-mata demi membentuk kepribadianku menjadi anak soleh, seperti yang dinginkan mereka, orang tuaku dan sampai menganugerahi namaku “Ahsan”.
Betapa besar kasih sayang mereka padaku. Betapa besar jasa-jasa mereka yang tak mungkin bisa ku balas walau dengan apapun. Mereka yang mendidikku tanpa mau menyerah Walau aku tak pernah mau tahu keinginan mulia mereka. Mereka yang selalu meluangkan waktu –bahkan rela memotong jam istirahatnya –hanya untuk mengajariku alif, ba, ta, tsa, agama serta memperkenalkanku pada dunia pengetahuan yang terus berkembang. Mereka yang memberiku segalanya, dan lain-lainnya.
Didetik ini, saat aku mengeng mereka –perjuangan-perjuangan mereka untukku –hatiku basah kuyup oleh air mata. Hanya saja mataku tampak kering dan pedih.
“Ya Allah, ampuni dosa mereka, sayangilah mereka seperti mereka mengasihiku dan kabulkan semua keinginan mereka...”
Yah, saat ini aku hanya bisa mendo’akannya. Tak lebih.
***
Jarum jam yang berjalan lambat namun pasti. Minggu yang terus saja berlalu, tanpa terasa tahun demi tahun pun berganti. Setelah sekian lama aku tak melihat ibu, kini ia hadir di sisiku, pada moment terpentingku dalam hidup ini. Hanya saja ia tengah menangis. Menangis bukan karena kenakalanku yang dahulu menjadi urutan nomer satu di kampungku. Tapi, ia tak tahan ketika menyaksikanku mengenakan baju toga: aku di wisuda. Barangkali ia sampai tak menyangka kalau-kalau hal itu terjadi. Dan bukan saja ibu, bahkan akupun hampir tak sanggup membendung genangan air mata di pelupuk mataku. Aku ingin menangis karena terkenang seseorang yang dahulu tak bosan-bosan menasehati serta menghukumku setiap kali mendapati kesalahan pada diri anaknya. Seorang ayah yang mengajarkan pada anaknya agar mau meneropong hari depannya, mengajarkan kemandirian dan segalanya. Ayah! Betapa sering aku menyusahkannya serta mengecewakannya. Dan yang paling aku sesalkan, tak sekalipun aku bisa membanggakannya. Karena sedari tiga bulan lalu ayahku telah tiada, pulang ke haribaan-Nya. Selamanya disana.
                “Ya Allah, ampuni segala dosanya, limpahkan kasih sayang-Mu serta perkenankan ia memasuki surga-Mu yang abadi...” Do’aku dalam hati.
Kami berfoto-foto seusainya acara. Aku mengajaknya berkeliling dan lalu duduk–duduk di taman kampusku. Untuk saat ini aku ingin membuatnya terus tersenyum, senyum kebanggaan seorang ibu pada anaknya. Aku sangat mengharap “surga ditelapak kaki ibu” itu akan benar-benar terjadi padaku. Akupun ingin sedikit membalas keringat juangnya untukku, atas segala yang pernah ia berikan padaku. Aku harus cepat-cepat sukses. Karena ingin sekali membuatnya bahagia. Sebelum Tuhan memanggilnya pula. Dan ketika kami bicara –hanya empat mata dengannya –sempat terlontar dari bibirnya yang mulai keriput:
“Kamu telah jauh berubah, sangat berbeda dengan dirimu yang dulu...”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar