AHSAN
Oleh :
Reang
Di bawah siraman terik mentari aku lari
pontang-panting mencari perlindungan, masuk ke gang-gang, menelusup ke deretan
rumah-rumah bahkan memasuki rimbunan kebun bambu dikampungku yang dikenal orang
angker. Aku tak takut lagi pada bangsa lelembut yang katanya menyeramkan dan
bisa mencelakakan. Pikiranku kalut serta hatiku resah karena ayah marah besar
padaku sekarang dan tengah mengejarku dibelakang. Memang, ini semua salahku.
Sudah beberapa kali ayah memperingatkanku agar tidak lagi melanggar peraturan
sekolah. Namun beruntungnya ayah, ia yang mengendarai sepeda sepulang dari
pasar mendapatiku dengan tak sengaja duduk-duduk sambil merokok di gardu dekat
jalan raya bersama teman-teman satu sekolah SMP ku sekitar pukul sepuluh pagi
tadi. Itu artinya ayah menemukan dua barang bukti kalau aku lagi-lagi tidak
mengindahkan peringatannya, yakni merokok dan bolos sekolah. Tentu ia berang
bukan buatan dan ingin menumpahkan kekesalannya yang menggunung setelah
ditahan-tahannya saat menasihati anaknya yang tak tahu diri berulang-ulang.
Sehingga buru-buru menghampiriku. Tak ada istilah malu bagi ayah dalam
menegakkan kebenaran, meskipun akan mempertaruhkan reputasinya dan anaknya
dihadapan umum. Untungnya aku lebih dulu tahu keberadaannya sebelum ia
benar-benar menangkap anak badungnya ini. Maka, tak pelak lagi, langsung ku
gunakan jurus langkah seribu. Bahkan, mungkin karena rasa takutku yang
berlebihan, entah kenapa langkah kakiku terasa ringan dan panjang-panjang. Ku rasakan
dua kali lebih cepat speed lariku dari biasanya. Tak ku hiraukan tasku
yang tertinggal disana. Aku hanya ingin selamat. Selamat dari cakar mautnya
yang mengerikan. Sebab aku kenal betul bahwa ayah termasuk orang yang pandai
dalam menghukum seseorang. Jika kini pelanggaranku bisa dinilai besar, berarti
hukumanku pun kelas tinggi yang sangat menakutkan dan menyakitkan. Aku tak mau
itu terjadi.
Bagai harimau hendak menangkap kijang, ayah amat
bersemangat mengejarku. Dan sebagaimana kijang yang ingin hidup, Akupun
berusaha keras menyelamatkan diri. Meski aksi kejar-kejaran ini tak seimbang –ayah
dengan sepeda ontelnya sedang aku hanya berlari –namun aku bisa lolos dari terkaman
mautnya karena beliau kesusahan ketika mengendarai sepedanya memasuki gang-gang
sempit dan jalan berkelok-kelok dan berbatu. Walaupun begitu ia tidak seperti
harimau afrika yang mudah menyerah ketika mangsa semakin jauh. Aku yang kini
ngos-ngosan dan kepayahan di tengah teduh dan gelapnya rimbunan bambu, ia masih
mengejar di belakang. Aku bisa mengetahuinya karena bunyi kasak-kusuk sepedanya
itu yang masih terdengar.
“Malang benar hari ini.” Gumamku sambil sebentar
berhenti dengan nafas memburu.
Aku tak mampu lagi berlari! Aku bukan pelari. Akupun
sama sekali tak mengharap ayah bisa membekukku disini. Sebab pasti aku babak
belur dihajarnya. Maka, satu-satunya jalan adalah sembunyi, sebelum ia sampai
melihatku.
Krakk! Grasak! Terdengar kayu patah.
Aku yang belum sempat sembunyi terkejut dan seketika
menoleh ke belakang. Tampak wajah ayah bak panglima perang tengah menunggang
kudanya dengan garang dan gagah berani. Air mukanya geram melihatku. Seperti
ingin menghabisiku.
“Mau lari kemana lari, kamu?!” Ia menudingku dari
kejauhan, bak sang pejuang mengangkat pedang dihadapan lawan.
Maka, walaupun kakiku pegal-pegal dan seperti
berdarah-darah, ku paksakan untuk kembali berlari. Sementara ayah yang
mengetahui buruannya mulai lemah semakin bersemangat mengejarku. Namun,
sepertinya takdir tidak memihakku. Aku semakin kepayahan. Dan saking payahnya
setelah berlari kencang puluhan kilo meter dengan sendirinya aku terjatuh. Ayah
tampak gembira dan menyeringai. Disinilah akhirnya ayah membekukku dan kemudian
menggelandangiku sampai rumah. Dan aku terus membayang-bayangkan hukuman
dahsyat yang pasti menimpaku.
***
Aku
dilahirkan dari keluarga ekonomi kelas menengah. Ayahku seorang ustadz kampung
sekaligus petani biasa. Selain memiliki lahan sawah, iapun membuka kedai kecil
untuk usaha sampingan di depan rumahnya. Sedang ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik yang selalu siap
sedia membantu pekerjaan suaminya selagi ia bisa. Dari mereka berdua itulah aku
dianugerahi nama Ahsan.
Semenjak kecil sifat nakalku tak tanggung-tanggung.
Nyaris selalu saja ada bahan untuk aku melakukan aksi bejatku. Kecuali ayah dan ibu, banyak yang sampai
mengeluhkan kenakalanku.
“Apa mungkin dulu, sikapmu seperti itu, Man?”
Tanya pak Nasir tetangga sebelah rumahku.
“Saat hamil dia, pasti kamu makan yang aneh-aneh,
Nah...” Tebak bu Yati tentang ibu, guru yang menjadi wali kelasku dulu di kelas
satu.
Mendengar perkataan-perkataan seperti itu ayah dan
ibu diam saja. Kadang jawab seadanya. Walau pernyataan-pernyataan itu mungkin
sedikit membuatnya kesal. Hanya saja tak pernah menampakkan kekesalannya itu
pada mereka. Samapai pada suatu hari, akupun ikut menanyakan tentang diriku,
karena sesekali mendengar dari orang lain tentang keganjalan diriku.
“Yah, kenapa ayah menamaiku Ahsan? Mungkin ada yang salah dengan nama itu?!”
Aku bertanya demikian karena pak Yasin, guru agama
di sekolahku mengatakan bahwa keganjilan seorang anak biasanya dari sebuah nama
yang dianugerahkannya terlalu berat. Walaupun mitos, diam-diam aku
memercayainya.
Saat itu ayah tengah duduk istirahat bersama ibu
di ruang tengah. Air mukanya tampak sedikit berubah mendengar itu. Keningnya
mengernyit. Entah galau atau marah padaku.
“San, kamu tahu apa makna dari namamu itu?”
Spontan aku menggeleng. Karena selama ini aku
benar-benar tak mengetahui makna namaku dari sesiapapun dan baru kali ini aku
ingin mengetahuinya. Barangkali ada benarnya yang dijelaskan pak Yasin.
Sementara ibu hanya diam sambil terpaku memandang anak lelakinya yang sudah
beranjak remaja. Tanpa ingin bicara walau sepatah kata, atau karena tak ingin
menyerobot suaminya dalam menjelaskan perkaraku.
“Ahsan adalah...” Mengambil nafas sesaat. “Yang
terbaik. Itu berarti ayah dan ibu sangat mengharap kamu menjadi anak yang
terbaik, terbaik dalam segala hal.” Jawabnya mantap.
“Kenapa kamu bertanya itu?” Ibu menyela.
Aku jawab, kalau aku hanya sekedar ingin tahu
saja.
Kenapa amat bertolak belakang sekali dengan
kepribadianku? Tanyaku entah pada
siapa. Sebenarnya, terkadang aku menyadari ketololan sifatku yang tak mau
berubah. Bahkan, kejadian buruk kemarin, sampai ayah mengejar-ngejarku sampai
dapat dan lalu menghukumiku dengan amat berat menurut yang kualami –tidak
diberi jajan dan menyapu halaman rumah selama seminggu ditambah pukulan dan ceramah
serta nasehat panjang dan membosankan –tetap tak membuatku jera. Karena,
dibulan berikutnya dua kali ayah kembali menangkap basah perbuatan burukku yang
mengulangi kesalahanku waktu itu. Entah apa yang salah pada diri ayah dan ibu
sampai-sampai memiliki anak yang tak mempan walau diberi berbagai hukuman dan nasehat
oleh mereka, guru dan beberapa tetanggaku. Sampai pada minggu lalu, aku
yang kedapatan berkelahi dan ikut
terlibat dalam tawuran, ayah tidak lagi menghukumku dan menasehatiku, entah
atas dasar apa. Mereka, ayah dan ibuku hanya diam ketika aku baru saja pulang
setelah tawuran. Entah marah atau kebahisan cara alias putus asa menyikapi
kenakalan anaknya yang tak bisa di atasi. Dan usai makan malam aku dipinta
menghadap ayah di ruang tengah. Sementara ibu sibuk melayani pembeli di kedai
depan sana.
“Apa yang kamu lakukan lagi hari ini?” Raut
mukanya tampak murung seperti kehidupan seseorang yang dililit banyak utang.
Sebenarnya ia tahu, tanpa perlu menanyaiku. Jadi,
aku perlu menjawabnya.
“Ayah ingin menghukumku?” Aku balik bertanya.
Ia menghela nafas panjang, seperti membuang banyak
beban didalam dadanya.
“Tidak. Ayah hanya ingin bertanya saja.”
“Tawuran.” Aku menundukkan kepala semenjak tadi.
Karena aku merasa malu dengan diriku yang bertabiat buruk, padahal ayahku
seorang ustadz. Dan tentu ayah sangat malu pada orang-orang akan kenalkalanku
itu.
“Berkelahi?”
“Ya.”
“Kenapa tidak pernah berubah sifatmu dari dulu.
Sekeras itukah hatimu?”
Lebih baik aku diam saja. Sebab, aku memang ada di
pihak yang salah.
“Lusa nanti, kamu pindah sekolah.”
Mendengar itu aku biasa-biasa saja. Tak apalah
pindah sekolah, toh aku masih bisa ketemu dengan kawan-kawanku.
“Di Magelang.”
Kali ini aku dibuatnya tergagap. Kepalaku
mendongak dan membalas tatapannya dengan agak gentar.
“Kau keberatan?”
Aku diam lagi, sebab melawan juga tak mungkin.
Ayah adalah tipe orang keras kepala. Sekali demikian, harus demikian. Tak bisa
di ganggu gugat.
“Selain sekolahpun, ayah akan mendaftarkanmu ke
pesantren.”
***
Senja
di Magelang tampak indah sekali. Siluet Borobudur yang megah seperti tumpukan
batu-batu cadas di puncak bukit. Entah kenapa, selama aku hidup di kota rantau,
disini, aku menyukai pemandangan Borobudur, mahakarya seniman kelas tinggi yang
mengukir batu dengan begitu artistik dan menarik, dengan latar belakang senja
yang tampak jingga dari lokasi pesantrenku. Tak tahu kenapa hatiku tiba-tiba
lapang dan bahagia setelah menikmati moment ini. Pemandangan yang sangat
menakjubkan itu seolah sangat mempengaruhi batinku. Seperti yang juga ku
lakukan saat ini. Dari masjid di pesantrenku, aku bersama teman-teman memandang
panorama alam yang memukau itu. Teman-teman yang berada di sisi kanan-kiriku,
tentunya berbeda dengan teman-temanku dulu. Bahkan bertolak belakang hampir 180
derajat. Dan tidak hanya menikmati senja yang elok tak terperikan, angankupun
melayang-layang. Jauh, melintasi batas waktu. Beberapa kali aku terkenang
kehidupan masa kecilku. Dan akupun akan teringat selalu keputusan ayah yang
terakhir itu yang bahwa sebenarnya adalah hukuman terberat yang harus ku
jalani: aku harus di pesantrenkan.
Kehidupan yang ku jalani disini
jauh belih berat dari yang ku kira. Aku sangat merasakan kehidupan orang-orang
susah yang selalu dengan kekurangan dan kesusahan. Tidak sampai disitu. Bahkan
yang ku rasakan, pendidikan disini adalah pendidikan terkeras dari seorang guru
terhadap murid sepertiku. Dan aku tak mau menyerah, pulang ke rumah. Karena
sudah terlalu banyak aku mengecewakan ayah. Akhirnya, disini, sedikit demi
sedikit aku mulai mengerti bahwa hidup haruslah ada aturan. Dan aturan yang mengekang
ego dan kebebasanku semata-mata demi membentuk kepribadianku menjadi anak
soleh, seperti yang dinginkan mereka, orang tuaku dan sampai menganugerahi
namaku “Ahsan”.
Betapa besar kasih sayang mereka padaku. Betapa besar
jasa-jasa mereka yang tak mungkin bisa ku balas walau dengan apapun. Mereka
yang mendidikku tanpa mau menyerah Walau aku tak pernah mau tahu keinginan
mulia mereka. Mereka yang selalu meluangkan waktu –bahkan rela memotong jam
istirahatnya –hanya untuk mengajariku alif, ba, ta, tsa, agama serta memperkenalkanku
pada dunia pengetahuan yang terus berkembang. Mereka yang memberiku segalanya,
dan lain-lainnya.
Didetik ini, saat aku mengeng mereka
–perjuangan-perjuangan mereka untukku –hatiku basah kuyup oleh air mata. Hanya
saja mataku tampak kering dan pedih.
“Ya Allah, ampuni dosa mereka, sayangilah mereka
seperti mereka mengasihiku dan kabulkan semua keinginan mereka...”
Yah, saat ini aku hanya bisa mendo’akannya. Tak
lebih.
***
Jarum
jam yang berjalan lambat namun pasti. Minggu yang terus saja berlalu, tanpa
terasa tahun demi tahun pun berganti. Setelah sekian lama aku tak melihat ibu,
kini ia hadir di sisiku, pada moment terpentingku dalam hidup ini. Hanya saja ia
tengah menangis. Menangis bukan karena kenakalanku yang dahulu menjadi urutan
nomer satu di kampungku. Tapi, ia tak tahan ketika menyaksikanku mengenakan
baju toga: aku di wisuda. Barangkali ia sampai tak menyangka kalau-kalau hal
itu terjadi. Dan bukan saja ibu, bahkan akupun hampir tak sanggup membendung
genangan air mata di pelupuk mataku. Aku ingin menangis karena terkenang
seseorang yang dahulu tak bosan-bosan menasehati serta menghukumku setiap kali
mendapati kesalahan pada diri anaknya. Seorang ayah yang mengajarkan pada
anaknya agar mau meneropong hari depannya, mengajarkan kemandirian dan
segalanya. Ayah! Betapa sering aku menyusahkannya serta mengecewakannya. Dan
yang paling aku sesalkan, tak sekalipun aku bisa membanggakannya. Karena sedari
tiga bulan lalu ayahku telah tiada, pulang ke haribaan-Nya. Selamanya disana.
“Ya Allah, ampuni segala
dosanya, limpahkan kasih sayang-Mu serta perkenankan ia memasuki surga-Mu yang
abadi...” Do’aku dalam hati.
Kami berfoto-foto seusainya acara. Aku mengajaknya
berkeliling dan lalu duduk–duduk di taman kampusku. Untuk saat ini aku ingin
membuatnya terus tersenyum, senyum kebanggaan seorang ibu pada anaknya. Aku
sangat mengharap “surga ditelapak kaki ibu” itu akan benar-benar terjadi
padaku. Akupun ingin sedikit membalas keringat juangnya untukku, atas segala
yang pernah ia berikan padaku. Aku harus cepat-cepat sukses. Karena ingin
sekali membuatnya bahagia. Sebelum Tuhan memanggilnya pula. Dan ketika kami
bicara –hanya empat mata dengannya –sempat terlontar dari bibirnya yang mulai
keriput:
“Kamu telah jauh berubah, sangat berbeda dengan
dirimu yang dulu...”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar