DI BAWAH LANGIT AMSTERDAM
Lama
sekali aku berdiam disini. Ruangan berangsur-angsur sepi. Hanya karena
termenung. Terus termenung. Pandanganku jauh kedepan, menembus kaca
buram jendela, melewati cemara-cemara yang tetap kukuh berdiri meski
tertimbun salju, menerobos deretan bangunan khas Eropa dan
gedung-gedung pencakar langit, jauh dan terus menjauh. Yah! Hatiku
sedang kelabu, seperti langit siang ini. Dan Kristal-kristal es terus
berjatuhan tanpa ampun menutupi daratan, membentuk seumpama permadani
putih yang menghampar luas tanpa ujung.
“I will be at the home tomorrow, Srikandi.” Lantang.
Aku tersentak seketika. Suara itu laksana gelombang besar menghantam karang imajiku. Hancur berantakan.
“Hellena, come here moment…!”
Sambil terus pergi ia menjawab: “Sorry, I am so busy. Bye!”
Menghilang dibalik pintu. Sesaat aku terpaku. Ku lihat sekeliling, kelas telah sepi. Tinggal aku sendiri.
I will be at the home, ku ingat katanya. Mendadak ingatanku melayang jauh ke rumah. Aku rindu pada semua yang ada di sana.
Srikandi,
adalah nama yang dianugerahkan Emak padaku. Bapakku hanya setuju.
Barangkali, berharap aku perempuan pemberani dan perkasa seperti dalam
cerita. Padahal yang terjadi, aku seorang perempuan kurus dan pemalu.
Bapakku
seorang guru di sekolah SMP. Hari-harinya diisi dengan mengabdi pada
Negara demi mencerdaskan bangsa. Bagi kami, beliau adalah profil seorang
ayah yang baik. Selain sibuk dengan pekerjaannya, tugas kepala rumah
tanggapun tak pernah dilalaikannya. Misalnya dalam mendidik dan
memperhatikan kami, anak-anaknya.
“Jadilah anak solehah yang bias membanggakan orang tua.” Demikian beliau sering berpesan padaku, anak pertamanya.
Sampai
beranjak dewasa, setelah genapnya umurku yang ke empat belas tahun ini
masih terkenang jelas dalam memori otakku. Bahkan, kusimpan rapat-rapat
dalam hati sanubari. Sehingga bagaimanapun, dalam hal apapun aku tetap
berbuat yang terbaik untuk mereka. Tak ada alas an untuk aku
mengecewakannya, apalagi sampai melukai hatinya.
Namun
tak pernah kami sangka, secepat itu takdir memaksa kami untuk hidup
tanpanya. Diusianya yang ke-42, tanpa penyakit dan datangnya marabahaya,
tiba-tiba ajal menjemputnya. Beliau pergi dari kehidupan kami,
selamanya, meninggalkan istri dan tiga anaknya. Beberapa saksi melihat
ibu menangis tersedu-sedu disisi jenazah bapak, seperti anak kecil
kehilangan mainan, seolah tak merelakannya. Tuhan Yang Mahakuasa rupanya
member cobaan berat pada kami.
Bapakku
yang seumpama kapten gugur, meninggalkan para anggotanya, Emakku
sebagai istrinya harus siap menjadi kepala keluarga. Mau tidak mau tugas
berat kepala rumah tangga diambil alih Emak. Beliau yang dulu hanya
seorang ibu rumah tangga, kini menjadi pedagang sayur keliling kampong
dan buka warung kecil-kecilan. Demi anak-anaknya, kerja seharian penuh,
bangun pukul tiga dinihari hingga petang tak jadi masalah. Ibarat kata,
demi kami darah dan air mata beliau korbankan. Itulah Emak. Pantas aku
berbangga padanya.
###
Hari
yang ku tunggu tiba. Detik waktu seolah melaju cepat laksana pesawat
tempur. Tanpa terasa diusiaku yang hampir genap enam belas telah lulus
SMP.
Terhitung
empat bulan Emak ditinggal almarhum Bapak. Beliau kurus dan tampak tua.
Di wajahnya bermunculan goretan-goretan tanda penuaan. Serta rambutnya
yang panjang sudah tumbuh uban. Aku tak sampai hati membayangkan Emak
harus terus bekerja keras demi menghidupi kami, membiayai sekolah kami.
Cukup Emak lelah mengurusi kami sejak kecil, asal jangan terus kelelahan
bekerja keras hingga setua ini. Maka, pada satu kesempatan aku bicara
padanya:
“Mak, Sri mau bekerja. Sudah waktunya. Mak istirahat saja bila perlu…”
Beliau tersenyum padaku, entah apa maknanya.
“Tak
perlu. Kamu sekolah saja yang rajin, jika perlu sampai sarjana. Mak
masih kuat. Masih sanggup…” Jawabnya kalem. Tersenyum padaku.
Ibuku,
memang perempuan perkasa. Aku sangat bangga. Namun, jujur, tetap aku
tak sampai hati. Sungguh. Sehingga aku ngotot, dengan dalih”
“…Srikandi hanya seorang perempuan, dan perempuan pada akhirnya menjadi istri,…melayani seorang seorang suami di rumah…”
Mendengar
kata-kataku mendadak raut wajah Emak berubah merah. Merah sekali. Tapi
diam sembari menatapku tajam. Rupanya ada yang salah dengan ucapanku.
Dan aku takut. Takut dimarahi. Beberapa detik kemudian beliau berucap
lirih, berat:
“Srikandi, tak sadarkah kamu?! Pandanglah baik-baik Emak!” diam sesaat. Matanya berkaca-kaca.
“Mungkin
saja suatu hari nanti, setelah kau berkeluarga, lalu kamu ditinggal
suamimu karena cerai atau meninggal dunia… maka kamu menjadi kepala
keluarga bagi anak-anakmu… yang bias menafkahi mereka…”
Aku diam mematung seperti malin kundang kena kutuk ibunya.
“Itulah
alasan Emak menginginkan kamu sekolah setinggi-tingginya, agar kamu
bias bekerja… tidak hidup susah seperti Emak…” Lanjutnya.
Kulihat
pipi Emak basah, berlumuran air mata, seperti pipiku. Aku tersadar.
Segalanya tersingkap jelas.emakku yang pendiam, yang selalu tersenyum
untukku, yang hanya lulusan SD, ternyata lebih tahu dariku.
Lekas ku dekap tubuh hangatnya. Ku remas baju kebayanya. Tiba-tiba kedamaian menjalar ke seluruh tubuhku.
###
Jauh.
Jauh sekali dari tanah kelahiranku. Di sini aku merindukannya, orang
paling ku cintai dan ku banggakan yang pernah hidup bersamaku. Emak, dua
tahun jauh darimu, tak pernah memandang senyummu, seperti dua abad. Aku
rindu sekali. Seperti ladang pada hujan dimusim kemarau. Di bawah
langit kelabu kota Amsterdam ingin ku tulis surat padanya, berharap
rinduku terobati.
Assalamu alaikum Wr.Wb.
Bagaimana kabar Emak dan adik-adik di rumah? Semoga sehat wal afiat dan selalu dalam lindungannya. Begitupun Srikandi di sini.
Pasti
Emak senang dan tersenyum saat membaca surat ini. Begitupun Sri saat
menulis surat ini. Srikandi rindu sekali , ingin memeluk dan memandang
wajah Emak dan adik-adik. Semoga saja Tuhan cepat mengabulkannya. Dan
kita bias bersama lagi.
Emak!
Berkat do’a Emak semester kali ini Srikandi mendapat nilai tertinggi di
kampus. Dan Srikandi akan terus berusaha, belajar sungguh-sungguh agar
terus berprestasi. Sri tak akan mengecewakan Emak.
Oh,
ya! Bagaimana dengan adik-adik? Tolong sampaikan pada mereka: belajar
yang rajin agar bias dapat beasiswa ke luar negeri seperti kak Sri!
Terakhir.
Jaga kesehatan Emak dan adik-adik. Jangan khawatirkan Srikandi di sini,
pokoknya baik-baik saja. Dan semoga Tuhan selalu cepat mengabulkan do’a
kita.
Wassalamu alaikum Wr.Wb.
Saltu
terus berjatuhan dari langit. Ruang kelas sunyi sepi. Ku tengok jam
dinding. Pukul 3 sore. Buru-buru ku bereskan barang-barang ke dalam tas.
Lalu segera meninggalkan kelas.
###

Tidak ada komentar:
Posting Komentar